Sunday, January 29, 2017

PALEO-EKOLOGI SUB-AREA EKS RAWA PURBA DAN PEGUNUNGAN KAPUR SELATAN TULUNGAGUNG [2]

Oleh: M. Dwi Cahyono


Gambaran Paleo-Ekologis Rawa Purba dan Pegunngan Kapur

Paparan ini membicarakan mengenai ‘sejarah ekologi’ atau ‘paleo-ekologi’ kawasan Rawa Purba. Suatu paparan yang penting artinya untuk memahami terbentuknya lingkungan fisis-alamiah di sub-area selatan Tulungagung, yang menjadi ‘ajang aktifitas budaya’ dalam kurun waktu panjang semenjak Jaman Prasejarah hingga kini.Menurut R.W.van Bemmelen (1949:546) Pegunungan Kapur Selatan Tulungagung merupakan bekas endapan koral, yang tersusun pada Kala Miosen-Plistosen. Selanjutnya, pada awal Kala Plistosen bawah terjadi pengangkatan dasar laut oleh gerakan endogen bumi, yang mengakibatkan terbentuknya Pegunungan Kapur Selatan (Southern Mountain). 


pak Dwi Cahyono arkeolog UNM [sumber poto: https://www.facebook.com/photo.php?]


Kemunculannya terjadi lebih awal daripada terbentuknya Kompleks Gunung Wilis dan Lawu Purba, yang menurut Sartono (1960:128) terjadi pada menjelang Kala Pleistocen Bawah. Pegunungan Kapur Selatan memiliki bentang arah barat-timur, berawal dari daerah Wonosari dan berarkhir di daerah Malang Selatan – yang berbatasan dengan Lumajang Selatan (Soejono, 1984:90-91). Dengan demikian kala itu di sub-area selatan Tulungagung terdapat Pegunungan Kapur Selatan, yang di sisi utara-nya berbatasan dengan laut dangkal. Sedangkan sisi selatannya berbatasan berbatasan degan samodra luas, yang konon dinamai ‘Samodra Hindia’ (Sartono, 1960:128-129). Pada awal Kala Pleistosen Akhir terjadi perubahan ekologis di sub-area selatan Tulungagung, yaitu dari laut dangkal menjadi rawa pedalaman.

Data geologis menunjukkan bahwa pada Kala Pleistisen Atas ekologi di sub-area selatan Tulungagung berupa Pegunungan Kapur dengan lembah-lembahnya yang curam. Un-sur tanahnya berupa tanah liat berwarna kemerahan (terra rosa). Bebarapa buah sungai kecil mengalir padanya, yang bermuara di laut dangkal. Sungai-sungai kecil itu membawa sendi-mentasi yang diakibatkan oleh kikisan air hujan pada Pugungungan Kapur Selatan. Akibat sendimentasi tersebut, lambat laun laut dangkal itu berubah menjadi rawa-rawa pedalaman. Pembentukan rawa pedalaman dipercepat oleh aktifitas vulkanis dari Gunung Wilis Purba dan Gunung Kelud – yang terbawa masuk ke dalam laut dangkal melalui lairan Bangawan Brantas. Berdasarkan catatan hingga setengah abad terakhir, tinggi sendimentasi mencapai 1 m, yang mengakibatkan genangan pada daratan di daerah Tulungagung. Endapan material vulkanik yang berupa lahar dingin itu berlangsung hingga menjelang akhir Kala Pleistosen Atas. 

Pada awal Kala Holosen kondisi ekologis di sub-area selatan Tulungagung berupa Pegunungan Kapur yang melebar kea rah utara dan rawa-rawa pedalaman yang membentang hingga berbatasan dengan lereng tenggra Gunung Wilis dan aliran Bangswan Bantas di sisi utaranya. Kala itu di bagian tengah Jawa Timur terdapat Gunung Kelud, Kawi, kompleks Arjuno-Welirang-Anjasmoro, dan Penanggungan. Sementara di bagian timur terbentuk gu-gusan gunug berapi Bromo-Tenggrer-Semeru. Kondisi alam yang demikian mengakibatkan terbentuknya Bangawan Brantas dan sungai-sungai di daerah Tulungagung, yang berbatasan dengan areal rawa-rawa pedalaman. Kondisi air di sungai Brantas yang sarat akan sendimen-tasi akibat aktifitas dua gugusan gunung berapi itu turut mempercepat terbentuknya rawa rawa pedalaman tersebut (Bemmelen, 1949:547, 559-560). Demikianlah, pada Awal Kala Pleistosen bawah hingga awal Kala Holosen di sub-area selatan Tulungagung terdapat Pe-gunungan Kapur dan rawa-rawa pedalaman.

Kondisi geologis sub-area selatan Tulungagung itu tidak berbeda jauh dengan kondi-sinya jelang tahun 1889, yang terdiri atas Pegunungan Kapur Selatan dan rawa pedalaman beserta beberapa anak sungai. Kondiasi geologis yang demikian menyebabkan semenjak dulu daerah Tulungagung senantiasa tergenang oleh air bah (banjir) pada setiap musim pengujan, Areal genangan banjir di Tulungabung terbilang paling luas dan berlangsung paling lama bila dibanding dengan daerah-daerah lain pada sepanjang DAS Brantas. Bahkan, secara hidrologis ada beberapa tempat di Tulungaung selatan yang memiliki perwujudan sebagai rawa, antara lain Rawa Remang di Rejotangan pada sub-area timur serta Rawa Gesikan (Rawa Campur) dan Rawa Bening (Rawa Bedalem) di sub-area selatan. Air pada Rawa Gesikan mendapatkan pasokan dari Kali Dawir berada di sebelah timurnya maupun Kali Ngasinan berada di sebelah baratnya – dari daerah Trenggalek. Rawa Bening yang lebih luas areal-nya juga mendapatkan pasokan air dari dua buah sungai yang berasal dari daerah Tenggalek, yaitu Kali Tawing dan Kali Karangtuwo, serta Kali Keboireng yang berasal dari Tulungagung Selatan. Rawa Bening dan Rawa Gesikan digubungkan oleh selah sempit, yang memisahkan daerah Campur Darat dan Bandung. 





No comments:

Post a Comment

#KemahBudayaTulungagung

#KemahBudayaTulungagung
kemahbudaya.ta@gmail.com

Recent

recentposts

Random

randomposts