[Menuju Kemah Budaya][carousel][10]

Sunday, January 29, 2017

Komunitas Brangkidul Tulungagung

9:06 AM
Komunitas Brangkidul Tulungagung hadir di radio Liiur Fm 90.9 mhz Tulungagung di acara POJOK LITERASI pada Sabtu pagi, 21/1/2017.

Ini atas undangan Sanggar PENA ANANDA CLUB. Di acara ini, Komunitas Brangkidul diwakili oleh saya [Heyu Saja] dan kang Miko Widjatmiko. Kami hadir bersama mas Septa dari komunitas Walikukun Tulungagung.

Kami membahas persiapan KEMAH BUDAYA Festival Gunung Budheg yang rencananya digelar tanggal 24-26 Pebruari 2017.

Hadir juga Bunda Zakyzahra Tuga pengasuh sanggar kepenulisan PENA ANANDA CLUB Tulungagung. [sumber: http://heyusaja.blogspot.co.id ]





PALEO-EKOLOGI SUB-AREA EKS RAWA PURBA DAN PEGUNUNGAN KAPUR SELATAN TULUNGAGUNG [3]

5:54 AM
Oleh: M. Dwi Cahyono

Perubahan Ekologis Kawasan Rawa Purba dan Sekitarnya

Upaya untuk mengeringkan rawa-rawa purba di sub-area selatan Tulungagung adalah ‘pekerjaan raksasa’, yang seakan merupakan upaya otopis melawan kodrtat alam. Semula na-sib daerah Tulungagung dipandang sebagai ‘ditentukan’ oleh kondisi fisis-alamiahnya, yang berupa ‘kawasan rawa’, dan kerenanya menjadi ‘daerah banjir’. Tercatat dua kali daerah ini dilanda banjir basar, yang mengakibatkan kerugian besar, yaitu pada tahun 1942 dan 1955. Adalah ‘memang telah menjadi nasibnya’ daerah ini menjadi langganan banjit tahunan. Bah-kan, di beberapa tempat genangan banjir berlangsung sangat lama, yaitu sekitar tujuh hingga sembilan bulan dalam setahun, sehingga hanya sekitar tiga hingga lima bulan dalam setahun daerah itu mengenyam daratan kering. Nasib buruknya yang demikian tercermin pada syair lagu keroncong buah karya Darmo Soewarno pada tahun 1950an, yang berjudul ‘Oh Nasib Tulungagung'.

Dwi Cahyono arkeolog UNM [sumber poto: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1064240856945561]


Menyadari kekuatan alam yang luar biasa itu, maka pada tahap awal yang dijalankan bukan mengeringkan rawa dan meniadakan banjir, namun hanya sebatas mengendalikan debit air rawa, khususnya di musim penghujan. Upaya demikian telah dirintis pada tahun 1939, semasa penjajahan Hindia-Belanda. Sebelum tahun 1939, genangan air di Rawa Gesikan dan Rawa Bening pada musim kemarau seluas 3.000 ha, sedangkan pada musim penghujan airnya melaup dan menggenangi daerah-daerah sekitarnya hingga mencapai luas sekitar 25.000 ha. Namun demikian, sejak tahun 1939 gengan air rawa pada musim penghujan justru bertambah luas hingga mencapai 28.000 ha.

Penambahan luas areal genangan itu terjadi akibat kesalahan perhitungan dalam upaya penanggulan banjir melalui pembangunan dua buah dam, yaitu: (1) Dam Widoro, yang dilengkapi dengan sudetan Muncang – menghubungan Kali Tawing dan Kali Ngasinan, dan (2) Dam Sumbergayam. yang dilengkapi dengan sudetan yang meng-hubungkan Kali Ngasinan dan Ngrowo. Dam Sumbergayam juga diperlengkapi dengan pintu air Cluwok. Ternyata sendimentasi masih terjadi di atas rencana itu. Akibatnya sebagian Kali Ngrowo, utamanya sebelah selatan pintu air Cluwok, hampir dipenuhi oleh sendimen. Selain itu, dasar sudetan Ngasinan naik setinggi 4-5 m, dan secara alamiah dasar Rawa Gesikan meninggi lebih cepat daripada yang direncanakan. Oleh karena itu kapasitas tampung airnya menjadi menurun (PPPI-PWSKB, tt:7).

Pada tahun 1961 genangan rawa berhasil diciutkan, dari 28.000 ha menjadi 13.600 ha. Hal ini merupakan dampak pembangunan Dam Bendo, Parit Raya, Pintu Air di Kendal serta terowongan pematusan I. Kemudian pada tahun 1976 areal genangan berhasil disusutkan lagi menjadi sekitar 4000 ha, sebagai dampak pembangunan parit dan saluran drainase sepanjang 20 km yang dibangun secara bergotong royong oleh para petani. Namun demikian, antara ta-hun 1976 hingga tahun 1989 genangan banjir di beberapa tempat masih belum terbebaskan: (a) genangan di daerah (Rawa Bening dan Rawa Gesikan) seluas 1550 ha, yang yergenangan sepanjang tahun, (b) genagngan air di daerah sekitar rawa – termasuk di dalamnya nagian di selatan kota – dengan luas genangan 2270 ha, yang tergenang selama sekitar 200 hari/tahun. Selain itu terdapat fareah dataran rendah, yang untuk waktu terbatas (sekitar 14 hari selama setahun tergenang banjir, dengan luas genangan 4120 ha (BPPI-PWSKB, tt:7).

Kawasan banjir di daerah Tulungagung benar-benar terbebas pada tahun 1980an. Hal ini berkat pembangunan saluran drainase tahap I (1981-1985), yang dilakukan dengan me-ngalirkan seluruh air bah (banjir) ke Kali Brantas dan ke Samodra Indonesia. Upaya lanjutan dilakukan hingga tahun 1989, berupa pembangunan parit agung yang dinami ‘Parit Lodaya-Tulungagung (Loda Agung) sepanjang 24,2 km, saluran pematusan II, dan tiga buah pintu air (BPPI-PWSKB, tt:9-11). Semenjak itu, predikat Tulungagung sebagai ‘Daerah Banjir’ dan ‘Kawasan Rawa Purba’ pun berakhir. Suatu prestasi luar biasa, yang mampu menjadikan impian untuk bisa mengeringkan rawa dan meniadakan banjir tahunan menjadi sebuah kenya-taan. Nasib buruk daerah Tulungagung yang menjadi langganan bajir tahunan ternyata bukan semata ditentukan oleh kondisi fisis-alamiahnya, namun terbukti mampu dibebaskan berkat spirit adaptif yang diejowantahkan ke dalam upaya sungguh-sungguh dengan disertai kegotongroyongan.

*     *     *

Demikian paparan ringkas mengena i 'Paleo-ekologi Eks Rawa Purba dan Pegunungan Kapur Selatan Tulungagng' linyas masa. Semoga membuahkan faedah, setidaknya untuk memahai konteks lingkungan padamana Festival Gunung Budheg kelak (24-26 Februari 2017) bakal diselenggarakan. Berikut akan diunggah lagi tulisan yang secara khusus membicarakan tentang Kesejarahan Gunung Budheg dengan judul 'Fakta di Balik Legenda'.

Salam budaya 'Ngrowojayati'. Nuwun

[M. DWI CAHYONO]

Sengkaling, 27 Januari 2017

PATEMBAYAN CITRALEKHA 





PALEO-EKOLOGI SUB-AREA EKS RAWA PURBA DAN PEGUNUNGAN KAPUR SELATAN TULUNGAGUNG [2]

5:47 AM
Oleh: M. Dwi Cahyono


Gambaran Paleo-Ekologis Rawa Purba dan Pegunngan Kapur

Paparan ini membicarakan mengenai ‘sejarah ekologi’ atau ‘paleo-ekologi’ kawasan Rawa Purba. Suatu paparan yang penting artinya untuk memahami terbentuknya lingkungan fisis-alamiah di sub-area selatan Tulungagung, yang menjadi ‘ajang aktifitas budaya’ dalam kurun waktu panjang semenjak Jaman Prasejarah hingga kini.Menurut R.W.van Bemmelen (1949:546) Pegunungan Kapur Selatan Tulungagung merupakan bekas endapan koral, yang tersusun pada Kala Miosen-Plistosen. Selanjutnya, pada awal Kala Plistosen bawah terjadi pengangkatan dasar laut oleh gerakan endogen bumi, yang mengakibatkan terbentuknya Pegunungan Kapur Selatan (Southern Mountain). 


pak Dwi Cahyono arkeolog UNM [sumber poto: https://www.facebook.com/photo.php?]


Kemunculannya terjadi lebih awal daripada terbentuknya Kompleks Gunung Wilis dan Lawu Purba, yang menurut Sartono (1960:128) terjadi pada menjelang Kala Pleistocen Bawah. Pegunungan Kapur Selatan memiliki bentang arah barat-timur, berawal dari daerah Wonosari dan berarkhir di daerah Malang Selatan – yang berbatasan dengan Lumajang Selatan (Soejono, 1984:90-91). Dengan demikian kala itu di sub-area selatan Tulungagung terdapat Pegunungan Kapur Selatan, yang di sisi utara-nya berbatasan dengan laut dangkal. Sedangkan sisi selatannya berbatasan berbatasan degan samodra luas, yang konon dinamai ‘Samodra Hindia’ (Sartono, 1960:128-129). Pada awal Kala Pleistosen Akhir terjadi perubahan ekologis di sub-area selatan Tulungagung, yaitu dari laut dangkal menjadi rawa pedalaman.

Data geologis menunjukkan bahwa pada Kala Pleistisen Atas ekologi di sub-area selatan Tulungagung berupa Pegunungan Kapur dengan lembah-lembahnya yang curam. Un-sur tanahnya berupa tanah liat berwarna kemerahan (terra rosa). Bebarapa buah sungai kecil mengalir padanya, yang bermuara di laut dangkal. Sungai-sungai kecil itu membawa sendi-mentasi yang diakibatkan oleh kikisan air hujan pada Pugungungan Kapur Selatan. Akibat sendimentasi tersebut, lambat laun laut dangkal itu berubah menjadi rawa-rawa pedalaman. Pembentukan rawa pedalaman dipercepat oleh aktifitas vulkanis dari Gunung Wilis Purba dan Gunung Kelud – yang terbawa masuk ke dalam laut dangkal melalui lairan Bangawan Brantas. Berdasarkan catatan hingga setengah abad terakhir, tinggi sendimentasi mencapai 1 m, yang mengakibatkan genangan pada daratan di daerah Tulungagung. Endapan material vulkanik yang berupa lahar dingin itu berlangsung hingga menjelang akhir Kala Pleistosen Atas. 

Pada awal Kala Holosen kondisi ekologis di sub-area selatan Tulungagung berupa Pegunungan Kapur yang melebar kea rah utara dan rawa-rawa pedalaman yang membentang hingga berbatasan dengan lereng tenggra Gunung Wilis dan aliran Bangswan Bantas di sisi utaranya. Kala itu di bagian tengah Jawa Timur terdapat Gunung Kelud, Kawi, kompleks Arjuno-Welirang-Anjasmoro, dan Penanggungan. Sementara di bagian timur terbentuk gu-gusan gunug berapi Bromo-Tenggrer-Semeru. Kondisi alam yang demikian mengakibatkan terbentuknya Bangawan Brantas dan sungai-sungai di daerah Tulungagung, yang berbatasan dengan areal rawa-rawa pedalaman. Kondisi air di sungai Brantas yang sarat akan sendimen-tasi akibat aktifitas dua gugusan gunung berapi itu turut mempercepat terbentuknya rawa rawa pedalaman tersebut (Bemmelen, 1949:547, 559-560). Demikianlah, pada Awal Kala Pleistosen bawah hingga awal Kala Holosen di sub-area selatan Tulungagung terdapat Pe-gunungan Kapur dan rawa-rawa pedalaman.

Kondisi geologis sub-area selatan Tulungagung itu tidak berbeda jauh dengan kondi-sinya jelang tahun 1889, yang terdiri atas Pegunungan Kapur Selatan dan rawa pedalaman beserta beberapa anak sungai. Kondiasi geologis yang demikian menyebabkan semenjak dulu daerah Tulungagung senantiasa tergenang oleh air bah (banjir) pada setiap musim pengujan, Areal genangan banjir di Tulungabung terbilang paling luas dan berlangsung paling lama bila dibanding dengan daerah-daerah lain pada sepanjang DAS Brantas. Bahkan, secara hidrologis ada beberapa tempat di Tulungaung selatan yang memiliki perwujudan sebagai rawa, antara lain Rawa Remang di Rejotangan pada sub-area timur serta Rawa Gesikan (Rawa Campur) dan Rawa Bening (Rawa Bedalem) di sub-area selatan. Air pada Rawa Gesikan mendapatkan pasokan dari Kali Dawir berada di sebelah timurnya maupun Kali Ngasinan berada di sebelah baratnya – dari daerah Trenggalek. Rawa Bening yang lebih luas areal-nya juga mendapatkan pasokan air dari dua buah sungai yang berasal dari daerah Tenggalek, yaitu Kali Tawing dan Kali Karangtuwo, serta Kali Keboireng yang berasal dari Tulungagung Selatan. Rawa Bening dan Rawa Gesikan digubungkan oleh selah sempit, yang memisahkan daerah Campur Darat dan Bandung. 





PALEO-EKOLOGI SUB-AREA EKS RAWA PURBA DAN PEGUNUNGAN KAPUR SELATAN TULUNGAGUNG [1]

5:40 AM
Oleh: M. Dwi Cahyono
Jejak Toponimis Eks ‘Rawa Purba (Ngrowo)'

Jika sekarang kita melacak sub-area selatan Tulungangung, tidak lagi dapat dijumpai areal rawa yang luas dan sebuah pulau bernama ‘Pulau Bedalem’, yang konon menyembul di tengah hamparan rawa. Yang ada sekarang adalah hamparan daratan rendah yang dipagari oleh Pegunungan Kapur (Kendeng) di sisi selatannya, sebagai ‘great wall’ kawasan ini ter-hadap samodra luas bernama ‘Samodra Indonesia’ – konon dinamai ‘Samodra Hindia’. Eks Pulau Bedalem kini berubah menjadi bukit kecil, yang pada punggungnya terdapat suatu situs makam Islam kuno. Namun, bila kita menilk data tekstual masa lampau, baik yang berupa susastra maupun arsip, maka dijumpai sebutan ‘rawa/rowo’ atau ‘ngrowo’ untuk sub-area ini.

Pustaka Kakawin Nagarakretagama dari Masa Hindu-Buddha misalnya, menyatakan adanya bangunan suci Buddhis (kuti) yang dinamai ‘Sanggraha’ (pupuh 70.3)– kini berubah sebutan menjadi ‘Sanggrahan’ – yang berada di tempat bernama ‘Rawa’ (pupuh 82.2-3). Informasi tekstual ini seakan menegaskan bahwa ketika Nagarakretagama ditulis (tahun 1365 Masehi), sub-area selatan Tulungagung bernama ‘Rawa’, yakni suatu penamaan tempat (tophonimy) yang mendasarkan pada karakter fisis-alamiahnya yang berupa ‘kawasan rawa pedalaman’.


Unsur nama ‘rawa’ juga terkandung pada nama sejumlah desa/dusun di sub-area selatan Tulungagung, seperti Desa Bonorowo, Dukuh Rowogebang, Dukuh Rowobaran (Tim Peneliti Hari Jadi Tulungagung, 1971:114, 148, 153). Unsur nama demikian juga tercantum dalam Prasasti Kamulan (1194 Masehi) yang ditemukan di Desa Kamulan Kec. Durenan Kab. Trenggalek, yaitu jabatan ‘haryan Kambang Rawa’ dan thani (desa) ‘Timbang Rawa’ (OJO LXXIII recto baris ke-5 dan verso baris ke-27). Selain itu di daerah Tulungagung terda-pat sebuah sungai yang mengalirkan air dari Rawa Bening dan Rawa Gesikan ke Bangawan Brantas, yang dinamai ‘Kali Ngrowo’. Unsur nama ‘Ngrowo’ adalah ‘persengauan (penambahan ‘ng’) di depan kata ‘rawa’, menjadi: ng+rawa = ngrawa atau ngrowo. Nama ini terus digunakan hingga pasca Hindu-Buddha. Memasuki Masa Perkembangan Islam, tepatnya pada era pemerintahan Kasultalanan Mataram, konon terdapat dua kadipaten dalam wilayah yang kini bernama ‘Tulungagung’, yaitu; (1) Kadipaten Ngrowo, dan (2) Kadipaten Kalangbret.

BERSAMBUNG



FOLLOW @ INSTAGRAM

https://www.instagram.com/kemahbudaya/

#KemahBudayaTulungagung

#KemahBudayaTulungagung
kemahbudaya.ta@gmail.com

Recent

recentposts

Random

randomposts